Si Diam yang Bicara

Beberapa tahun lalu, saya baru lulus kuliah dan mendapatkan kerja pertama. Datang dan pergi, ke dan dari, tempat kerja dengan menggunakan bis kota. Ada satu cerita “indah” mengenai pengalaman naik bis kota ini yang selalu saya ingat, bahkan sampai saat ini.
Saya duduk di salah satu tempat duduk berwarna hijau beberapa baris di belakang supir. Saya pilih posisi di dekat jendela supaya bertemu muka dengan semilir angin ibukota yang tak lagi suci karena diperkosa polusi. Bis kota ini tidak menyediakan fasilitas AC untuk penumpangnya. Jadi angin berpolusi pun sudah kami anggap surga. Menyedihkan memang.
Tiba-tiba dari luar bis muncul sebuah tangan yang berusaha menggapai pintu bis. Dan dari posisi tempat duduk saya, dapat terlihat kepala yang menyembul setelah dia berhasil meraih pintu bis dan berpijak di anak tangga yang lebih tinggi. Seorang laki-laki berkaos polos sederhana berwarna biru.
Selama si Kaos Biru itu naik ke bis ini, dia belum melakukan apa-apa selain berdiri menghadap ke arah semua orang yang menghadap ke arahnya. Dan menunduk. Saya rasa, sama seperti saya, semua orang tidak mempertanyakan kehadiran orang itu. Karena sudah biasa di bis milik ibukota ini, ada orang mencari nafkah dengan cara menyumbangkan suara dengan ditemani nyawa dari alat musik. Beberapa penumpang biasanya dengan malas menikmatinya, dan kadang si penyanyi mendapat imbalan berupa uang kecil dari para penikmat suaranya. Bahkan sudah biasa juga saat ada yang bermaksud menyumbangkan suara yang, bukan saja tidak dapat dinikmati namun juga, menakutkan. Menakutkan sungguh dalam arti harfiah, karena yang dia lakukan adalah bernyanyi tanpa nada tentang kisah hidupnya yang tidak punya pekerjaan karena baru saja keluar dari bui. Lalu dia minta sedekah dari semua penumpang dengan intonasi mengancam, dan tak jarang membawa benda tajam. Kisah ini diduplikasi entah dari mana sumbernya, karena saya sudah mendengar kisah ini setidaknya tiga kali dari orang yang berbeda. Saya tentunya tidak akan memberikan sedekah ke orang yang mencari nafkah dengan cara semacam ini. Sungguh, suaranya tidak terdengar merdu sama sekali.
Kembali ke si Kaos Biru. Dia masih berdiri di depan pintu bis. Dan sepertinya tetap memutuskan diri untuk berdiri walaupun masih ada beberapa kursi kosong yang bisa diduduki, hanya kalau dia mau. Sepertinya dia bukan si Pengamen bersuara merdu, karena dia tidak membawa alat musik. Ok, berarti besar kemungkinan dia adalah si Pengancam. Meskipun mimik mukanya tidak cocok sama sekali mendapatkan peran untuk mengancam. Bahkan sesaat setelah diperhatikan, dia tampan. Cukup tampan. bahkan jika dipoles sedikit, besar kemungkinan dia bisa menjadi model jam tangan atau parfum laki-laki di lembar majalah khusus lelaki metropolitan, atau bahkan terpampang gagah di billboard jalan utama ibukota.
Si Kaos Biru memakai celana panjang bewarna hitam. Serta jaket tanpa kancing, yang berwarna senada dengan celana, yang membalut bagian belakang kaos birunya. Terlihat rapi, walaupun rambutnya panjang sebahu. Terlihat sorot jujur, walaupun pandangan matanya selalu melihat ke bawah. Orang itu terlihat sangat tidak percaya diri.
Tangan kanannya bergerak ke arah belakang kantong celana belakang kanan. Kami berharap ini bukan peristiwa pembajakan bis yang biasa terkisah di koran-koran ibukota. Saya rasa sama seperti saya, semua penumpang di bis ini tidak mengharapkan hal ini terjadi. Detik selanjutnya orang itu memang mengeluarkan sesuatu dari kantong celana belakangnya. Tapi ternyata tidak sedrama pisau atau pistol, hanya beberapa lembar kertas.
Si Kaos Biru mengangkat dagunya, seiring dengan kertas di tangan kanannya. Akhirnya kami saya tau, dia mau bersyair. Oh iya, benar, aku sering dengar juga katanya ada beberapa orang yang mengamen tanpa alat musik, hanya mengandalkan suara untuk bersyair. Tanpa mengeluarkan nada ancaman juga, hanya bersyair. Kadang ini juga cukup menghibur bagi yang suka. Dan lagipula setelah dia tidak lagi menunduk walau tanpa berkata apa-apa pun, khususnya kami para perempuan, sudah sangat menikmati diamnya itu. Mukanya kini jelas tampan sekali. Saya yakin orang-orang juga berpikir orang ini bisa lebih terjamin hidupnya jika dia jadi pemain film atau sinetron. Dia memberikan sedikit senyum yang rasanya bisa menyegarkan udara Jakarta yang suram ini.
Lalu kami diam-diam terperanjat karena si Kaos Biru memulai puisinya, tapi bukan dengan suara yang kami harapkan.

 

“Aaaaa..”
“Baaaaaaaa..”
“Baaaa baaa waaaa..”

Dia tuna wicara..

 

“Baaaaaa baaaa wa waaaa.. haaaaa..”
“Haaaaa wiiii waaa..”

Beberapa muka yang sedang menikmati ketampanannya tersentak kaget. Tanpa mengeluarkan suara, sepertinya kami para penumpang bis kota sepakat dalam hati untuk berpaling ke samping atau ke bawah. Seakan-akan jika kami adalah juri dalam ajang pencari bakat, kami akan menghentikan niatnya untuk berkarya. Karena apa yang dinyanyikannya, disyairkannya serta digumamkannya adalah hal percuma. Kami para juri ibukota yang sok tau ini merenda kesimpulan di otak masing-masing. Ada yang merasa kasihan. Ada yang merasa si Kaos Biru tidak menarik lagi. Ada yang berdecak sebagai gambaran keluh. Ada yang merasa si tampan tidak punya harapan. Ada yang merasa lelah setelah pulang kerja dan si Penyair sama sekali tidak membantu hilangkan rasa lelah itu.

 

“Baaaa biii waaaa..”
“Baaaaaa muuuu ba yaaaa..”

Tanpa gerakan, kami menutup mata, hati dan telinga. Dan dia tetap menyanyikan syairnya. Setelah selesai, dia mengeluarkan kantong bekas bungkus permen yang sudah kusut. Mulai berjalan ke lorong bis dan menyodorkan kantong sambil berharap ada sedikit kebaikan terselip di hati warga ibukota yang sedang lelah. Sekitar lima dari belasan orang penumpang memberikan logam dari seper-puluhan hasil jerih payah mereka. Lalu si Kaos Biru kembali ke depan “panggung bis” dan kembali menatap seluruh penumpang.

 

“Baaaaaa baaaa wa maaaa.. ba. Terima kasih atas waktunya, saya ..”

Ha?! Dia bicara! Semua tersontak. Mata yang lelap langsung fasih melihat. Telinga yang absen dengar langsung terbuka lebar. Hati yang mati rasa langsung lompat dari wadahnya. Dia bicara!

 

“.. jika saya mengganggu. Saya hanya orang biasa yang sedang meneliti perilaku warga ibukota. Yang tentu saja berkaitan erat terhadap kepedulian terhadap sesama. Terima kasih sudah menunjukkan kepada saya dengan jujur atas seberapa besar yang bisa saya dapatkan dari keterbatasan saya. Saya hanya berharap kita hati kita semua tetap sehat, yang hatinya sakit bisa segera sembuh, dan yang hatinya sudah mati bisa segera bereinkarnasi. Terima kasih juga untuk yang sudah mengulurkan tangan untuk berbagi. Dan saya sebagai penengah atas sedekah saudara-saudara, akan memberikan ini kepada yang lebih membutuhkan..”

Si kaos biru langsung terlihat sempurna! Selain tampan, bersuara merdu dan berhati mulia! Semua benih positif mengenai si Kaos Biru mulai bertumbuh kembang. Perasaan campur aduk mulai tak terbendung. Lalu si Kaos Biru langsung memberikan uang yang ada di kantong bekas bungkus permen dan memberikan semuanya kepada kondektur bis kota yang juga sedang menganga terpana seperti halnya penumpang lainnya. Kemudian si Kaos Biru menuruni dua buah anak tangga dan melompat dari pijakannya menuju aspal jalan raya.
Sementara itu kami yang ditinggalkan masih lupa untuk berkedip. Mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Si cacat menjadi sempurna dalam sekejap. Dan penumpang yang merasa sempurna baru saja menyadari kecacatan dalam dirinya.

Share this:

2 Comments

  1. Ibnu Habibi
    November 1, 2014
    Reply

    :O, :0, :o, :8 <– mulutnya dua, (menganga).

  2. @harigelita
    May 7, 2015
    Reply

    We want more! We want more!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *