Meraja tanpa rakyat

Aku terbangun tanpa membuka mata. Telinga memanggil bunyi yang didengar dan memasukkannya ke ke kepala. Bernapas. Mencium aroma yang terlalu familiar. Memanggil siapa saja yang kukenal dengan suara hati. Berteriak manfaatkan fungsi bisik.

Pikiranku tertidur nyaman. Otakku gendut kebanyakan makan dan minum. Aku penuh. Tapi tidak luber. Cukup saja. Meskipun terlalu cukup. Terlalu takut untuk sudah. Terlalu khawatir untuk pudar. Terlalu panas untuk memijak bongkahan es. Terlalu lupa untuk ingat. Terlalu diam untuk maju.

Aku siapkan tali. Untuk menarik diri sendiri. Agar tak bermanja dengan rumput hijau pengikis mimpi.
Aku mau bangun. Karena di sini. Aku meraja tanpa rakyat.

Share this:

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *