Pengamen itu

Di otaknya ramai. Bisa dilihat dari raut muka yang jauh dari kesan damai. Tetapi dia terus bernyanyi tanpa suara. Di tengah teriakan kota yang bising berisi jutaan nada. Penumpang bisa mendengar dengan sebelah mata. Tetapi bisunya menancap pada gambaran hati dari setiap pandangan yang mencela. Sesaat setelah dia akui semua itu hanya dusta. Bahwa tanpa berkata bukan berarti tidak bersuara.
 
Dia tidak ingin apa-apa lagi. Dari semua hati yang terlanjur menghakimi. Dia cuma sampaikan satu kalimat indah tanpa ada dendam yang mengikuti. Bahwa sombong bukan satu hal yang diajarkan Yang Maha Berkehendak. Tepuk tangan datang diwakili hati yang berdetak. Waktu berhenti akibat raut muka yang tersentak. Kemudian semua sepakat meresapi sejenak.
 
Lalu penonton tertunduk malu dan dia pun berlalu..

Share this:

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *