Teh

Tidak masalah. Ada di air panas atau di air dingin. Tidak masalah. Yang penting terendam. Atau setidaknya sekitarku lembab. Masa hidupku seratus tahun. Menurut kalenderku. Kalender yang ada di kepala. Kepalaku. Dan kepala teman-temanku.
Aku tidak tau kapan aku bisa mulai hidup. Atau mulai mati. Tapi aku tau kapan aku bisa membuka mata. Ya, ketika karton tipis tempat tinggalku dibuka. Saat itulah aku membuka mata. Meskipun sebenarnya itu bagian dari otomatisasi.
Lalu aku belajar. Perlahan mulai tau. Bahwa aku hidup, ya ketika aku buka mata. Dan aku mati ketika aku tutup mata. Aku membuka mata selama ada air. Dan mata meredup waktu air perlahan menguap.
Selama ada air, aku bisa bernapas. Menari. Bergoyang. bertepuk tangan. Lompat di tempat.
Dia yang membuka kotak karton tipis itu, adalah Tuhanku. Tanpa pernah memanggilku, dia mengangkatku menjadi anak buahnya, menurutnya. Bisa dibilang memang aku memiliki aroma apel, tapi bukan berarti aku bisa menjadi anak dari si buah apel yang ada di lapis atas benda itu kan? Menurutku, begitu menurutnya.
Sekarang badanku mulai melembab. Sisa air di tubuh perlahan menguap. Aku sudah hidup sekitar seratus tahun. Mereka pikir itu lama. Tapi bukan itu yang kurasa. Aku merasa seratus tahun itu sebentar. Selama seratus tahun, bisa dikatakan aku selalu mengeluh. Tubuhku buntal, tak berkaki, merasa berlemak tanpa lemak, dan sebagainya.
Lalu aku baru saja bermimpi. Aku bertemu spesiesku. Tubuhnya juga buntal, juga tak berkaki, juga terlihat berlemak tanpa lemak. Tapi dia beda. Dia tidak mengeluh. Dia bersyukur.
Dia bersyukur bisa berguna bagi makhluk lain. Dia tau dia dihidupkan dan dimatikan oleh Tuhannya. Dia tau dia diairi dan akan diangkat dan kemudian dibuang.
Aku adalah salah satu dari seluruh butiran teh yang ada di gumpalan itu.

Share this:

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *