Penjahit waktu

Sudah jam 5 kurang 13 menit. Sebentar lagi aku akan beranjak pulang. Sepertinya aku akan merangkum hari ini dengan senang. Salah satu alasannya adalah target baju yang harus kujahit hari ini tercapai, yaitu 6 baju. Aku lipat baju yang terakhir yang selesai kujahit lalu menaruhnya di tumpukan yang terdiri dari 5 baju lainnya. Aku suka kerapihan. Bisa dibilang aku mengidolakannya. Sebenarnya mungkin aku bisa saja menghasilkan 8 buah baju dalam sehari. Tapi kerapihan jahitan tidak terjamin. Bentukannya pasti akan jadi baju karena otakku sudah cukup terlatih dengan polanya, tetapi jahitannya mungkin akan miring atau tidak sama kencang dengan baris jahitan lainnya. Penjahit yang lain mungkin juga akan menggeletakkan baju begitu saja tanpa dilipat. Atau dilipat asal-asalan yang penting terlipat. Dan yang penting sudah terjahit berbentuk baju. Karena memang setlah ini baju akan disalurkan ke bagian pembungkusan.

 

Di bagian pembungkusan itu baju akan dibersihkan terlebih dahulu dari serpihan benang sisa yang memeluk baju bagaikan memeluk kekasih yang akan pergi untuk sementara. Beberapa penjahit biasanya tidak peduli dengan si benang sisa ini karena membersihkannya dari baju memang bukan pekerjaan mereka. Tetapi entah mengapa aku selalu peduli. Atau terlalu peduli. Biasanya aku bersihkan dulu benang- benang sisa itu sebelum kulipat baju dengan rapih sebelum kuberikan ke bagian pembungkusan untuk, entah perlu dibersihkan kembali atau tidak sebelum masuk proses selanjutnya, penyetrikaan. Setelah penyetrikaan, baju kemudian dibungkus menggunakan plastik bercetak lingkaran hitam sebesar pantat gelas yang didalamnya ada huruf SY, yang merupakan inisial dari merk baju ini. Aku suka design dari logo baru ini. Kelihatan lebih sederhana dan elegan. Logo baru ini memang baru diluncurkan beberapa bulan lalu. Setelah beberapa orang bilang logonya sudah terlalu tua untuk model baju yang sederhana seperti yang baru kujahit ini. Entah apa hubungannya tua dan sederhana. Kuserahkan saja kepada mereka yang muda yang lebih paham mengenai design. Aku toh sebenarnya tidak merasa keberatan dengan logo yang lama, bagiku sama saja yang penting aku bisa meningkatkan kualitas jahitan baju dan penjualan baju meningkat sehingga puluhan pekerja di belakangku ini bisa makan dan menafkahi keluarganya. Meskipun memang ternyata logo baru ini membawa banyak keuntungan untuk perusahaan karena meningkatkan penjualan baju-baju ini. Keberadaan baju-baju ini memang sedang meraja di beberapa kota besar. Maka dari itu pemimpin perusahaan bersikeras untuk mempertahankan keberhasilan ini dengan hanya memilih orang-orang terbaik untuk mengrjakan setiap bagian pekerjaan.

 

TENG! TENG! TENG!
Bunyi penanda pulang sudah terdengar. Gemuruh para penjahit menjadi suara yang memecahkan keheningan selanjutnya. Aku tetap duduk, karena di waktu seperti ini akujustru akan mulai mengerjakan sesuatu, yaitu mempersiapkan apa yang harus kukerjakan esok hari. Supaya besok pada waktu datang ke meja ini, aku sudah siap bekerja. Entah karen alasan itu aku belum beranjak dari mejaku, atau memang karena aku tidak suka keramaian. Aku orang yang cukup ramah. Aku bisa bercakap dengan asik dan membicarakan sesuatu dengan seru seperti yang lainnya. Hanya akhir-akhir ini aku cuma lebih nyaman dengan kesepian daripada keramaian.

 

Lima belas menit kemudian, ruangan besar ini sudah sepi. Saatnya aku pulang. Decit kaki kursiku jadi satu-satunya suaradi ruangan ini ketika aku berdiri. Kuambil tas dari laci meja, kukembalikan posisi kursi supaya lurus dengan meja. Lalu aku mulai melangkah berjalan ke arah pintu. Di sisi kiri pintu ada saklar untuk lampu yang tingginya beberapa senti di atas tinggi badanku. Kuraih saklar itu demi menjalankan kewajibanku sebagai orang terakhir di ruangan itu sambil memikirkan mau makan apa aku malam ini. Aku cukup bosan dengan sup kacang merah yang dulu kupuja. Aku juga bosan makan di tempat itu lagi. Aku bosan dengan keramaian di sekitarnya. Aku bosan dengan aktivitasku setiap pulang bekerja. Aku bahkan bosan dengan seluruh aktivitasku setiap hari. Aku bahkan lebih bosan dengan keluhanku sendiri tentang kebosanan ini..

 

“Ah! Hey!!”
Ah, masih ada orang! Aku otomatis menekan kembali saklar lampu itu ke tempat semula. Dan lampu kembali menyala.

 

“Oh. Maaf.. maaf.. saya kira saya orang terakhir di ruangan ini..”, teriakku pada tembok putih di ruangan ini sambil mencari dari mana suara itu berasal. Oh, di bagian paling belakang aku lihat ada pergerakan. Meskipun tetap tidak telihat di meja nomor berapa teriakan itu berasal karena ada ratusan meja di ruangan ini. Tepatnya ada 108 meja. Itu yang terakhir kudengan dari pidato pemimpin perusahaan di acara ulang tahun perusahaan 2 minggu yang lalu. Cuma itu yang kjelas kuingat dari pidatonya karena ku sibuk merasakan sakitnya kakiku yang sedang menahan tukikan tajam dari sepatu hak tinggi baru yang kubeli khusu untuk acara itu.

 

“Ok, tidak apa-apa!! Tapi tolong biarkan lampunya menyala!!”, teriak orang itu dari kejauhan. Bermaksud untuk meminta maaf, aku berjalan ke arah suara yang tidak bisa kupastikan apakah itu suara laki-laki berlogat perempuan, atau perempuan dengan komposisi suara berlebih. Tetapi sepertinya hal tersebut tidak cukup penting dibanding memikirkan harus makan apa malam ini. Ah, sudahlah.. aku pulang saja. Yang penting lampu sudah kunyalakan.

 

“Ok!”, sahutku kencang sambil menuju ke arah pintu. Aku kembali berpikir siapa pula yang masih di ruangan jam segini. Bukannya merasa tersaingi atau apa, aku cuma penasaran apa yang dilakukan orang itu. Tidak seperti biasanya. Aku jadi ragu untuk menutup pintu kembali. Sambil memegang gagang pintu, aku bertanya pada diriku sendiri apakah sebaiknya kuhampiri saja orang itu?

Share this:

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *