Tahun Baru 2014

Di masa Tahun Baru begini hampir semua tempat menawarkan keramaian sebagai menu utamanya. Kira-kira semenjak beberapa tahun lalu, tanpa sengaja aku tidak lagi menganut paham itu. Semenjak aku berteman dengan orang yang hidupnya sangat simple lagipula jelas. Dia tau apa yang dia mau. Dia jalani hidupnya berdasarkan itu. Dia menjadi orang yang jalani hidupnya. Tidak peduli orang bicara apa. Tiap kali aku bilang, “Tapi si ini aja begini”, “Kita kok ga begitu kayak si itu ya”, dia cuma bilang bahwa kita bukan mereka, dan mereka bukan kita. Dia yang irit mengeluarkan kata-kata, hampir selalu mengeluarkan kalimat yang pasti ada maksudnya.

Dia tidak pernah menjabarkan apa maksudnya secara gamblang. Tapi lama-lama bisa kupahami dari cara berpikir temanku ini. Salah satunya ya itu tadi, kita bukan orang lain, dan orang lain bukan kita. Setiap orang punya cara yang berbeda. Dan kita bisa menentukan sendiri kita mau jadi seperti apa. Tidak perlu mengikuti orang lain. Sebenarnya kita bisa melakukan apa yang kita mau. Asal kita tau apa yang kita mau. Sejauh itu tidak merugikan bagi orang lain tidak perlu peduli orang mau bilang apa. Toh hidup ini adalah hidup kita.

Contohnya menjadi orang baik. Jadilah orang baik yang memang baik dari hati dan niat. Bukan menjadi orang baik supaya dilihat orang lain sebagai orang baik. Dia begitu. Dia tidak murah senyum dan jauh dari ramah. Memang pada dasarnya tidak ekspresif. Dia mungkin bukan orang yang sempurna. Tapi saat ada yang kesusahan, dia berusaha membantu. Saat ada yang lemah, dia berusaha melindungi. Saat ada yang kekurangan, dia berusaha memberi. Tanpa ingin merasa disebut baik. Dia baik karna dia baik.

Kecuali dia membaca ini, mungkin dia tidak akan tau bahwa setiap Tahun Baru aku selalu ingat pelajaran ini. Dari temanku itu aku belajar mengerti apa mauku. Belajar mengarahkan mau ke mana. Belajar tidak menuntut hidup yang kadang terlihat tidak adil. Belajar menerima. Belajar menghargai. Belajar tidak memaksa orang lain. Belajar berjuang. Belajar bersyukur.

Bersyukur temanku itu sekarang menjadi suamiku.

Share this:

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *