Pagi saya adalah

Jam 6 pagi. Berdiri di depan jendela kamar. Melihat ke luar. Semua terlihat seperti miniatur. Ujung jalan layang yang terlihat seperti perosotan di taman bermain. Kendaraan yang terlihat seperti mainan mobil-mobilan di jalan raya yang baru mulai ramai. Permukaan pepohonan yang dari atas semakin terlihat seperti bongkahan brokoli.

Sudah sekitar 15 menit saya berdiri di sini. Mencoba mengerti pagi tanpa rasakan hawa segarnya. Karna dingin yang saya rasa di kulit ini berasal dari kotak putih pendingin ruangan yang tertempel di dinding, bukan dari langit pagi.

Sudah beberapa pagi ini, biasanya di akhir minggu, sebenarnya saya suka berlari di taman. Lari terakhir berhasil mencapai jarak terjauh 6 km. Ini saya anggap merupakan pencapaian karna saya sebenarnya bukan peminat olah raga. Tapi setidaknya saya punya sepatu olah raga. Sepatu olah raga yang sebenarnya sudah tidak dalam keadaan 100% cantik. Dikarenakan sepatu olah raga saya sudah pernah menjadi kerupuk. Sebelum dikenakan lagi belakangan ini, terakhir saya kenakan pada waktu ada acara outdoor di kantor beberapa bulan lalu. Untuk berjingkat riang bersama-sama di tengah hutan di tengah hujan. Sepulang dari acara kantor, sepatu digeletakkan begitu saja di balkon. Sampai lupa, sampai mengering sendiri bersamaan dengan lapisan lumpur di permukaannya. Sebenarnya sepatu itu terlihat lezat seperti frozen choco cake. Tapi saya tidak memakannya. Meskipun jadi bercita-cita untuk memesan frozen choco cake berbentuk sepatu. Setelah memandangi keadaan sepatu lezat tersebut, akhirnya saya mengikhlaskan diri untuk membasuhnya. Tapi waktu saya ambil sepatu sebelah kanan dan kiri secara bersamaan, lempengan lumpur keringnya ternyata retak dan berjatuhan. Rasanya seperti meraup kerupuk..

“Klek!”
Suara penanda nasi sudah matang. Saya lepaskan pandang dari langit yang sudah mulai terang dan segera beranjak menuju meja di belakang. Saya buka penutup rice cooker sambil berdendang. Asapnya berhamburan seperti gerombolan anak sekolah yang riang menyambut jam pulang pada waktu penjaga sekolah membuka gerbang. Setelah asap hilang, terlihat hamparan nasi yang baru matang.

Ini adalah salah satu kesukaan saya. Menikmati wangi nasi yang baru matang. Rasanya seperti di rumah. Di rumah siapapun yang dapat merasakannya. Kadang saya sengaja memasak nasi, bahkan tanpa memikirkan siapa yang akan menemani nasi saat di piring nanti. Sekedar untuk merasakan wanginya saat baru matang. Aroma hangatnya membuat bahagia. Setidaknya bagi saya.

Bagi saya lagi, wangi nasi matang itu seperti wanginya alam setelah hujan. Dan seperti suasana ruangan bernuansa putih. Dan seperti dipeluk hangat. Dan seperti jajan ice cream. Entah memang begitu atau hanya memang karna saya gemar menyamakan hal yang saya suka dengan hal yang saya suka.

Di kamar. Saya yang meminta agar jendela dibiarkan terbuka begitu saja tanpa ditutup horden. Saya suka awan. Saya suka pepohonan. Saya suka menonton air hujan menari di panggung langit. Saya suka taburan lampu gedung di malam hari. Saya suka matahari perdana menjelang pagi. Saya suka.

Sebenarnya ada satu lagi hal yang paling saya suka belakangan ini. Dan berharap ini akan terjadi seterusnya. Saat membuka mata di pagi hari. Penglihatan buram saat kelopak mata terbuka pertama di pagi hari, biasanya mengajak otak untuk mencari keberadaan seorang dia tanpa perlu berpikir. Lewat pandangan, suara atau sentuhan.

Seorang dia yang sejak beberapa waktu lalu bersedia memulai hidup bersama saya. Yang menerima kekurangan saya. Yang tidak menuntut. Yang tegas. Yang minim kata-kata tapi bisa membuat saya tertawa lepas. Yang memahami saya. Yang punya beberapa cara menyebalkan untuk membuat saya kesal. Yang punya banyak cara untuk mengajari saya cara bersyukur. Yang menjaga saya. Yang merangkul saya untuk bangun lagi ketika saya jatuh. Yang menyempurnakan hidup saya.

“Klotak!”
Suara dari dalam kamar mengagetkan saya yang masih mematung di depan hangatnya nasi yang baru matang. Dia sudah bangun. Saya tutup kembali rice cooker dan bergegas kembali ke kamar. Melompat ke atas tempat tidur. Menyusup kembali ke dalam selimut dan mulai bercerita tentang mimpi tadi malam sambil berpelukan.

Ini. Pertanda hari sudah dimulai. Karna sesungguhnya, pagi saya adalah dia.

Share this:

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *