Hari pertama

Tidak cukup jelas melihat dari balik air. Air bening yang ada di permukaan mata. Sampai selimut abu-abu ini rasakan hangat tetesannya. Yang jatuh langsung dari sumbernya. Jika selimut ini miliki indra pengecap, mungkin asin yang dirasa. Tetes kali ini berbeda degan tetes merah yang keluar dari indra penciuman semalam. Yang semalam meskipun berwarna, tapi tidak sakit. Yang ini, meskipun bening, tapi berangkat bersama sesak di dada.

Sekarang lumayan jelas. Pandangan sudah tidak terhalang meskipun masih berbayang. Kulihat kini sebuah gelas di atas meja. Meja yang berada tiga langkah dari pinggir tempat tidur yang kududuki. Gelas transparan bermotif tiga garis hijau horisontal. Berisi Air Lengkap. Iya, namanya Air Lengkap. Warnanya bening. Mirip air putih. Tapi rasanya pahit. Jika bukan karna aku tahu ada seseorang yang menuang air ke gelas itu kemarin pagi, gelas itu pasti dianggap  kosong. Karna batas air sejajar dengan si garis hijau horisontal yang paling atas.  Gelas itu ada di atas meja. Tidak jauh. Tapi jika merasa tidak mampu berjalan, maka tidak pula akan terasa dekat.

Aku punya enam hari sebelum buta pikiran. Tadinya. Tapi sekarang sudah lewat dari hari pertama.

Dalam diam kubuat dosa. Mengutuk dia dengan sumpah serapah di dalam hati. Dia si Penolong. Penolong yang tidak ambilkan Air Lengkap untuk kuminum pagi ini. Penolong yang tiap hari lontarkan kalimat negatif pemudar semangat. Penolong yang memperbudakku. Penolong yang terus menyemangatiku untuk lekas mati. Penolong yang kubenci. Dalam hati.

Hari terakhir Penolong menolongku untuk meminum air itu adalah tujuh hari yang lalu. Dia masuk ke rumah ini dengan kunci yang sengaja kuberikan. Supaya aku tidak harus membukakan pintu untuknya setiap dia datang. Badannya kurus. Selalu memakai kemeja berwarna biru langit yang sudah pudar. Kadang hampir terlihat seperti putih. Kemeja dipasangkan dengan celana kain yang tak kukenali warnanya. Seperti coklat kusam, tapi agak merah hati. Selalu warna jelek itu.

“…”, si Penolong menuang Air Lengkap di gelas bergaris hijau horisontal kesukaanku tanpa suara. Lalu seperti biasa datang mendekat kepadaku sambil mengajak berbincang tentang hal-hal seputar ketidakmampuanku untuk sembuh, tentang lebih baik menyerah karna yang kulakukan ini percuma, tentang dirinya yang bisa saja terus melakukan ini tapi sampai kapanpun namun dia yakin pasti tidak akan berhasil, dan semua hal lain bernada sama. Seperti biasa aku diam saja. Atau mengangguk datar. Bukan dengan disengaja, namun karna tidak tau harus berlaku seperti apa. Aku merasa bodoh.

Dia diutus oleh Tuan-nya untuk merawatku. Menolongku agar lekas pulih. Membawaku kembali ke Kerajaan ketika aku sembuh nanti. Begitu rencananya. Bukan hanya dia yang seharusnya berusaha, akupun seharusnya harus berjuang melawan sakit ini. Seharusnya begitu. Setidaknya menurutku. Aku percaya si Penolong tidak bermaksud jahat. Tapi entah mengapa sepertinya dia tidak juga bermaksud baik. Atau mungkin bermaksud baik dengan cara yang kurang etis.

Kemarin, seperti biasa dia masuk membawa botol bening berisi Air Lengkap. Air untuk sakitku. Yang sebelumnya harus kuminum tiap satu bulan sekali. Tapi karna parah sakitku, sekarang enam hari sekali. Tidak masalah. Setidaknya aku masih percaya aku akan pulih. Itu yang terpenting menurut Tuan.

Kulihat jendela di sebelah kanan. Langit terang. Langit sepi. Langit diam. Tidak ada suara. Tapi aku bisa melihat si Penolong menuangkan Air Lengkap itu ke gelasku di atas meja. Setelah itu dia bergerak mundur. Juga tanpa suara. Aku menunggu dia muncul kembali. Sedetik. Semenit. Sejam. Sehari.

Dia tidak muncul lagi.

Share this:

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *