Waktu itu, 24 May 2012

Mungkin ketika beranjak matang baru sadar apa artinya.

Di depanku ini ada satu manusia. Kebetulan dia cuma seseorang bagi orang lain dan orang-orang lain. Pada awalnya waktu absen rencana. Tapi kebetulan lagi, alam sedang berbahagia suasana hatinya dan mendadak mengeluarkan jurus sulap yang dipercaya umat. Maka hap hap hap! Dijadikannyalah kami manusia yang mempertemukan diri kita kepada diri kita sendiri.

Dulu. Masing-masing juga pernah bersatu dengan keajaiban alam yang lain. Yang juga dalam bentuk rasa. Dan mungkin memang hanya rasa. Menjalin hanya dengan andalkan itu. Paksakan diri untuk dapatkan bahagia. Menarik-narik jarum jam agar sesuaikan dengan jadwal keberangkatan kita. Menanam bunga di batu cuma untuk yakinkan bahwa warna itu nyata.

Dalam milyaran detik. Selama itu kita berjalan. Masing-masing. Masih terpisah seperti sebelumnya. Lalu kita bertemu waktu. Yang bukan kebetulan juga sedang berjalan. Lalu kita bertemu angin yang bertiup ke arah yang sama. Lalu kita tanya alamat pada pasir sekedar pastikan arah jalan ini benar.

Sekarang semua sudah dituliskan. Tanpa bantuan pinsil yang sudah diraut. Tapi tetap nyata. Tertera di sana.

Dan di sini.

Share this:

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *