Kilobyte 5

Selamat pagi, sayang..

Ingin rasanya aku menipis maksimal secara vertikal dan horisontal hingga menjadi angka digital. Merepresentasikan 0 dan 1. Menjelma menjadi helai surat elektronik. Dan menghadapmu saat kamu membacaku.

Sejuta hinaan sekasar batu bergerigi asimetris telah terlontar sempurna.
Sampai akhirnya terhenti pada puja-puji kepada Tuhan dan alam.
Berharap beribu hal atas nama keajaiban datang dan temuiku.
Suara yang menghilang berkata, itu terlalu mustahil.
Maka, aku ambil selembar saja inginku.

Ada di dekatmu.

Merasakan sakitnya hebat tatapmu menjelang waktuku tiba.
Mencium wangi tubuhmu beranjak napasku hilang.
Menggenggam jarimu walau kuat fisikku pelahan memudar.

Peluk aku, Sayang. Taburkan bunga. Ceritakan aku kisahmu dengan muka serius penuh rencana. Lindungi dirimu dari nakalku. Genggam tanganku yang sarat kekuatan. Bagi tangismu. Dekap bayangku yang tak bernyawa.

Terpujilah Tuhan atas semua indah yang pernah hadir.
Jika boleh masa itu selalu ada.

Kini. Yang Lebih Megah dari rencana kita telah berkehendak mutlak.

Namun ada satu harap dalam sujud di permukaan duniaku.
Sisipkan aku selalu dalam himpit tangismu.
Jangan berhenti patri aku di relungmu.
Tanam aku sampai mendalam ke poros hatimu.
Bantulah anganmu berjalan sampai ke sana.

Berjalanlah..
Perlahan saja..

Berhenti sebentar bukan perkara jika itu akan memudahkan langkahmu.
Tapi tetaplah kembali berjalan, Sayang… Sampai aku hilang.

Berjalanlah..

 

Peluk cium,

Putih.

Share this:

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *